Home » Ulasan » Ulasan Film » [Review] Ikatan Darah: Aksi Balas Dendam Penuh Laga Berbahaya Dan Banjir Darah!
[Review] Ikatan Darah: Aksi Balas Dendam Penuh Laga Berbahaya Dan Banjir Darah!

#Description:
Title: Ikatan Darah (2025)
Title: Ikatan Darah (2025)
Casts: Livi Ciananta, Derby Romero, Ismi Melinda, Lydia Kandou, Teuku Rifnu Wikana, Dimas Anggara, Abdurrahman Arief, Rama Ramadhan, Agra Piliang, Andri Mashadi
Director: Sidharta Tata
Studio: Uwais Pictures, Legacy Pictures
Studio: Uwais Pictures, Legacy Pictures
#Synopsis:
Mega (Livi Ciananta) dan sahabatnya, Dini (Ismi Melinda) merupakan atlet pencak silat yang berhasil memenangkan banyak medali emas di berbagai ajang olahraga. Saat mengikuti salah satu kompetisi, Mega mengalami cedera pada bagian bahunya yang menyebabkan ia harus istirahat sebagai atlet pencak silat. Selama proses perawatan dan penyembuhan, cedera tersebut rupanya tidak bisa sembuh total dan membuat Mega harus pensiun dan meninggalkan dunia olahraga silat yang selama ini membesarkan namanya.
Lima tahun berlalu, Mega menghabiskan waktu dengan bekerja serabutan dan hidup dalam kondisi finansial serba terbatas. Ia tinggal bersama dengan ibunya yaitu Ibu Yuli (Lydia Kandou) dan kakak laki-lakinya, Bilal (Derby Romero). Suatu ketika saat malam hari, rumah Mega kedatangan beberapa preman yang menagih hutang atas nama Bilal yang sudah jatuh tempo. Mega dan sang ibu sangat terkejut mendengar Bilal punya hutang puluhan juta kepada lintah darat dengan bunga tinggi. Mereka pun makin tak menyangka jika Bilal tega menggadaikan sertifikat tanah rumah tanpa sepengetahuan Ibu Yuli. Para preman pun menitipkan pesan pada Mega agar Bilal segera menemui bos mereka dan melunasi hutang agar rumah tidak disita.
Saat tengah malam, Bilal pulang ke rumah dan langsung diinterogasi oleh Mega dan ibunya yang kecewa dengan keputusan Bilal menggadai rumah tanpa sepengetahuan. Hal tersebut terpaksa Bilal lakukan untuk biaya sehari-hari mereka, biaya pendidikan dan biaya pelatihan yang dulu Mega lakukan saat masih menjadi atlet pencak silat. Bilal pun berjanji akan membereskan hutangnya dan mengembalikan sertifikat rumah.
Keesokan harinya, Bilal pergi meninggalkan rumah dan menuju tempat kediaman Bos Adrian (Dimas Anggara) untuk meminta keringanan perihal hutangnya. Bilal berjanji akan mencicil hutangnya asalkan sertifikat rumahnya dikembalikan. Mendengar permintaan tersebut membuat Adrian kesal dan menganggap omongan Bilal itu hanya bualan semata. Sambil menghitung uangnya yang disimpan di brankas, Adrian menawarkan akan membantu meringankan hutang Bilal asalkan sang adik yaitu Mega diserahkan kepadanya. Mendengar hal tersebut membuat Bilal tersulut emosi karena sudah merendahkan harga dirinya dan juga sang adik. Perkelahian pun tak terhindarkan yang menyebabkan Adrian tewas dengan luka tusukan di dadanya. Bilal yang panik kemudian kabur sambil membawa sertifikat rumahnya dan uang yang ada di brankas milik Adrian.
Di sisi lain, Mega pun terus memikirkan agar sertifikat rumahnya bisa segera kembali ke tangan sang ibu. Mega kemudian nekat ingin meminjam uang ke lintah darat dengan bantuan Dini yang bekerja pada Romli (Abdurrahman Arief). Awalnya Dini memperingatkan Mega agar tidak gegabah meminjam pada lintah darat demi kebaikan keluarganya, namun karena Mega sudah tidak ada pilihan lain lagi. Saat sedang menunggu Romli meminjamkan uangnya, Mega tak sengaja mendengar obrolan Romli tentang kematian Adrian dari bos mereka yaitu Pak Primbon (Teuku Rifnu Wikana). Ciri-ciri pelaku pembunuhan tersebut mengenakan jaket hoodie berwarna biru muda yang tak lain adalah Bilal, kakaknya. Mega kemudian pergi dari lapaknya Romli. Dalam perjalanan pulang, Mega terkejut dan tak menyangka jika kakaknya jadi pelaku pembunuhan. Dini pun berusaha menanyakan soal hal tersebut dan berharap bukan Bilal pelakunya.
Pak Primbon yang mengelola jaringan preman di seluruh penjuru kota langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk memburu dan menangkap pelaku pembunuhan Adrian. Pak Primbon menugaskan Romli dan Maung (Rama Ramadhan) sebagai penanggung jawab dan mengatur strategi untuk mencari orang yang mereka incar. Setelah bersembunyi di rumah temannya, Bilal kemudian berpindah tempat sebelum pulang ke rumahnya. Gara-gara temannya yang diam-diam mengambil uang dari tas Bilal dan digunakan untuk membayar hutang pada Romli, akhirnya ketahuan jika pelakunya adalah Bilal. Romli dan Maung kemudian memerintahkan semua anak buahnya termasuk Dini untuk menuju tempat tinggal Bilal.
Setibanya di rumah, Bilal langsung dimarahi oleh Mega karena telah membunuh lintah darat dan kini mereka berada dalam bahaya. Mereka berdua memutuskan untuk kabur dari rumah demi keselamatan sang ibu. Namun sayang, akses keluar masuk kampung tempat tinggal Bilal dan Mega sudah dikepung oleh para preman yang jumlahnya sangat banyak. Bilal dan Mega kemudian menggunakan jalur tikus agar tidak ketahuan oleh anak buahnya Pak Primbon. Ditengah perjalanan melewati banyak gang sempit, banyak warga yang memilih untuk bersembunyi ke rumah mereka masing-masing karena ketakutan akan terjadi bentrokan besar. Bilal dan Mega tak sengaja berpapasan dengan Dini. Perkelahian pun tak terhindarkan. Dini terpaksa melawan Bilal dan Mega karena ia sedang bekerja di bawah Romli, meskipun mereka sudah lama saling kenal satu sama lain. Mega berusaha menyadarkan Dini untuk tidak terus bergantung pada Romli. Dini ketakutan jika keluarganya akan dihabisi oleh Romli dan Pak Primbon jika menjalankan tugasnya.
Keadaan semakin pelik saat mereka bertiga bertemu dengan Maung. Pertarungan semakin sengit karena Dini akhirnya memilih untuk berada di sisi Mega dan Bilal. Maung yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa berhasil mengimbangi Mega dan Dini yang jago bela diri pencak silat. Selain Maung, mereka bertiga juga harus menghadapi Romli yang sangat kecewa dan penuh amarah saat mengetahui Dini membangkang terhadap tugasnya. Sementara itu, terjadi bentrok antara warga dengan para preman yang sedang berkeliling di kampung mereka. Bentrokan tersebut menelan banyak korban jiwa dari para warga yang jumlahnya kalah banyak dengan para preman. Bagaimana nasib Bilal dan Mega selanjutnya? Akankah mereka berdua berhasil selamat dari incaran para preman biadab, termasuk bos dari segala preman yaitu Pak Primbon?
#Review:
Rumah produksi Uwais Pictures membuka tahun 2026 dengan merilis film action terbaru berjudul IKATAN DARAH (2026) dengan menggandeng Sidharta Tata sebagai sutradara. Aku berkesempatan untuk menonton film ini lebih dulu di pemutaran perdana (world premiere) pada pagelaran JAFF Jogja yang ke-20 pada bulan Desember lalu.
Untuk segi cerita, Sidharta Tata dan Rifki Ardisha selaku penulis menghadirkan karakter utama perempuan yang memiliki kemampuan bela diri. Keputusan tersebut menurutku cukup tepat dan menjadi angin segar juga untuk film Indonesia bertema action (non genre superhero) yang terbilang sangat jarang menampilkan karakter perempuan sebagai lead nya. Menariknya di sini, sang sutradara berhasil membagi rata antara porsi drama dengan action, sehingga tidak sekedar jualan gelut saja, tapi punya sisi emosional yang baik lewat drama keluarga dan juga persahabatan perempuan. Di babak awal film, journey karakter Mega dan keluarganya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi setelah Mega tak lagi menjadi atlet karena cedera, menjadi potret dan realita kehidupan mayoritas para mantan atlet di Indonesia seperti tidak diperhatikan lagi oleh pemerintah. Issue tersebut kemudian semakin kompleks dengan munculnya konflik baru dari karakter kakaknya Mega yang menunggak hutang pada lintah darat. Sekali lagi, Sidharta Tata berhasil menyuarakan kritik sosialnya melalui struggling keluarga Mega untuk bertahan hidup. Lebih lanjut, subplot mengenai hubungan persahabatan antara Mega dan Dini juga tak kalah menarik perhatian. Keduanya sesama atlet pencak silat, namun terpaksa menjadi musuh bebuyutan karena faktor tuntutan ekonomi. Dinamika persahabatan mereka semakin greget saat memasuki pertengahan film, dengan hadirnya elemen action yang nyaris tanpa jeda sampai film selesai. Eksekusi serangkaian adegan action dengan tambahan gore dan slasher menjadi sajian utama yang luar biasa dari film IKATAN DARAH (2026) ini. Penonton diajak untuk menahan nafas sejenak di beberapa adegan fighting yang intensitas nya sangat memukau. Aksi baku hantam, kucing-kucingan di gang sempit, fighting di ruangan sempit yang semuanya terjadi di siang bolong sukses membuatku takjub sekaligus misuh-misuh melihatnya. Level action dan kesadisan film IKATAN DARAH (2026) ini menurutku sudah setara dengan dua film THE RAID (2011) dan THE NIGHT COMES FOR US (2018)! Iko Uwais selaku produser yang membintangi ketiga film tersebut pasti sangat paham bagaimana menyajikan film yang ia produseri ini intensitas action sadisnya dapat melampaui ekspektasi penonton.
Untuk jajaran pemain, penampilan Livi Ciananta yang sekilas mirip Widuri Puteri dan Ismi Melinda yang sekilas mirip Poppy Sovia berhasil mencuri perhatian berkat kemampuan bela diri mereka. Definisi die hard harus kita berikan kepada kedua karakter yang mereka perankan. Selain mereka, penampilan Derby Romero sebagai Bilal yang menjadi beban bagi karakter Mega sukses bikin jengkel penonton. Meskipun di satu sisi, aura protagonis dan good man nya masih sulit hilang dari Derby Romero. Kayak, kurang cocok aja gitu visual Derby Romero jadi karakter pria brengsek hahaha. Penampilan yang mencuri perhatian justru datang dari sosok villain dan antagonis di film IKATAN DARAH (2026) ini. Rama Ramadhan dengan bahasa Sunda nya yang 100% nyunda pisan, kemudian Teuku Rifnu Wikana yang selalu luar biasa mendalami peran antagonis yang kali ini ada tambahan adegan action brutalnya, lalu Dimas Anggara dan Abdurrahman Arief yang tampil sangat menyebalkan, sukses bikin penonton kesal melihat mereka semua.
Untuk urusan visual, Sidharta Tata menyajikan film IKATAN DARAH (2026) dengan eksplorasi teknis yang semakin menggila. Berbagai teknik pengambilan gambar di ruangan sempit saat adegan fighting dengan menonjolkan koreografi gelut oleh Uwais Team sukses meningkatkan adrenaline penonton di bioskop. Adegan-adegan sadis yang disajikan juga sukses menciptakan reaksi tepuk tangan dari penonton. Salah satu yang paling memorable yaitu adegan pemotong rumput dan fighting melawan karakter Maung. Gilaa! Bikin cemas dan panik banget!
Overall, film IKATAN DARAH (2026) berhasil menjadi sajian film action Indonesia yang memukau di tahun ini. Bisa dibilang sebagai produksi masterpiece dari Uwais Pictures dan Sidharta Tata. Can’t wait for the sequel!
[8.5/10Bintang]
Bagikan ke Teman & Pengikut:
- Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
- Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Klik untuk berbagi pada Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Klik untuk berbagi pada Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr
- Klik untuk berbagi pada Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Klik untuk berbagi via Pocket(Membuka di jendela yang baru) Pocket
- Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Klik untuk berbagi di Utas(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Klik untuk membagikannya ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Klik untuk berbagi di Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Klik untuk berbagi di Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
SaveSavedRemoved 0