Home » Ulasan » Ulasan Film » [Review] Pillion: Drama Percintaan Antara Pasangan Dominan Dan Submisif!
[Review] Pillion: Drama Percintaan Antara Pasangan Dominan Dan Submisif!

#Description:
Title: Pillion (2026)
Title: Pillion (2026)
Casts: Harry Melling, Alexander Skarsgård, Lesley Sharp, Douglas Hodge, Jake Shears, Nick Figgis, Zoe Engerer, Jake Sharp, Anthony Welsh, Zamir Mesiti
Director: Harry Lighton
Studio: BBC Films, British Film Institute, Element Pictures, Warner Bros Pictures, A24
#Synopsis:
Di malam natal, Colin beserta kedua orangtuanya yaitu Peggy (Lesley Sharp) dan Pete (Douglas Hodge) pergi menuju bar untuk melihat aksi Colin dan rekan-rekannya bernyanyi kuartet di sana. Setelah selesai pentas, Peggy dan Pete rupanya mendatangkan seorang pria yang rencananya akan dijodohkan dengan sang anak. Mereka berdua sudah sangat terbuka dan tidak mempermasalahkan anaknya Gay. Colin pun tak pernah menolak untuk menemui pria pilihan orangtuanya, meskipun pria tersebut bukan tipenya, demi membahagiakan sang ibu yang mengidap kanker dan sedang menjalani proses kemoterapi.
Waktu semakin larut. Colin tak sengaja melihat seorang pria berpostur tinggi dan berbadan atletis diantara para rombongan pembalap motor yang ada di bar itu juga. Colin terpesona pada pandangan pertama pada pria tersebut. Saat sedang di meja bar, pria tersebut rupanya menyadari jika Colin memandanginya. Ia kemudian mendekati Colin dan memberikan selembar kertas kecil yang bertuliskan nomor teleponnya. Pria tersebut bernama Ray (Alexander Skarsgard) yang meminta Colin untuk menghubungi dan menemuinya esok hari di jam dan tempat yang sudah ditentukan.
Ajakan bertemu dari Ray tersebut membuat Colin sangat senang. Kedua orangtuanya pun ikut bahagia karena baru pertama kali melihat Colin akan kencan dengan pria pilihannya sendiri, Pete pun meminjamkan jaket kulit miliknya untuk dipakai Colin setelah mengetahui pria yang mengajak anaknya kencan itu berprofesi sebagai pembalap motor. Sambil membawa anjing kesayanganya, Colin berjalan menuju komplek pertokoan yang sudah ditentukan Ray. Tiba di sana, Colin sudah datang sambil membawa anjing kesayangannya juga. Setelah itu, Ray mengajak Colin berjalan menuju tempat yang sepi di belakang pertokoan. Di sana, Ray meminta Colin untuk berlutut, kemudian mendorongnya untuk menjilat sepatunya. Setelah itu, barulah Colin melakukan oral seks pada Ray. Setelah merasa puas, Ray dan Colin kemudian berpisah.
Setelah kejadian di malam itu, Colin berusaha agar bisa berkomunikasi dan bertemu lagi dengan Ray. Namun sayang, semua chat dan panggilan teleponnya Colin tak pernah direspon. Colin pun memutuskan untuk fokus lagi bekerja sebagai petugas tilang parkir kendaraan dan mulai belajar melupakan Ray. Hingga suatu hari, tiba-tiba saja Ray menelepon Colin untuk datang ke rumahnya. Akhir pekan pun tiba. Peggy dan Pete sangat senang melihat Colin yang akhirnya berpacaran dengan pria sesuai keinginannya. Mereka menyiapkan berbagai perlengkapan termasuk oleh-oleh cemilan cokelat untuk diberikan pada Ray. Colin pun tiba di rumahnya Ray. Di sana, Ray langsung memberikan aturan pada Colin untuk memasak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan sehari-hari selama tinggal di sana, tidur di lantai kamar dan harus menuruti semua ucapan Ray. Awalnya Colin terkejut karena liburannya bersama Ray tidak sesuai dengan ekspektasinya. Namun karena sudah terlanjur berada di sana, Colin pun menyesuaikan diri dan berharap tidak mengecewakan Ray.
Pagi harinya, Colin terbangun oleh suara alarm. Ia melihat dari balik jendela, Ray yang sudah bangun duluan dan sedang mencuci motor kesayangannya. Di meja, Colin melihat daftar belanjaan yang harus dibeli. Setelah selesai membereskan dan membersihkan rumah, Colin pergi ke swalayan untuk berbelanja. Tiba di rumah, ia menyiapkan makan sehari-hari untuk Ray. Semua tugas dan perintah sudah dilakukan oleh Colin. Sore harinya, Ray mengajak Colin olahraga wrestling dengan kostum yang sudah disediakan. Colin sangat menikmati kebersamaannya dengan Ray meskipun ia belum pernah wrestling sebelumnya. Setelah Colin mengerjakan semua perintahnya, Ray kemudian memberikan imbalan berupa hubungan seksual.
Hari demi hari terus berlalu. Colin mulai nyaman dan terbiasa dengan semua aktifitas yang dilakukan Ray. Ia kemudian mencukur habis rambutnya lalu ikut rombongan geng motor bersama dengan Ray dan teman-temannya. Hingga suatu hari, Colin melihat pesta seks tak biasa anggota geng motor di rumahnya Ray dengan mengenakan kostum latex, berwarna hitam dan banyak alat-alat BDSM di sana. Setelah pesta seks tersebut, Colin melihat beberapa orang yang berperan sama seperti dirinya dan sudah terbiasa menjadi budak bagi Ray dan teman-teman geng motornya.
Seiring berjalannya waktu, perubahan penampilan dan seringnya Colin menghabiskan waktu bersama di rumahnya Ray membuat Peggy dan Pete khawatir. Colin pun berusaha menenangkan kedua orangtuanya dengan memberi kabar jika dirinya baik-baik saja dan bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Ray. Hari ulang tahun Colin pun tiba. Awalnya Colin menganggap Ray tidak mengetahui jika ia sedang berulang tahun. Tapi ternyata ia sudah menyiapkan pesta ulang tahun dengan tour bersama geng motornya. Selama berkemah, rombongan geng motor menggelar pesta seks BDSM. Untuk pertama kalinya, Ray dan Colin melakukan hubungan seksual secara normal dan penuh keintiman sebagai hadiah ulang tahun untuk Colin.
Suatu hari, Colin meminta izin untuk mengajak Ray makan-makan di rumahnya dan bertemu lagi dengan orangtuanya. Colin ingin mengenalkan secara baik-baik agar tidak terjadi kesalahpahaman yang selama ini dipikirkan oleh ayah dan ibunya itu. Namun sayang, acara makan-makan tersebut menjadi berantakan usai Ray mengungkapkan dinamika hubungannya dengan Colin yang berbeda dari pasangan Gay kebanyakan serta menganggap pandangan orang tua Colin itu terbelakang. Hal tersebut membuat Peggy sangat marah dan menganggap Ray adalah orang gila.
Beberapa minggu kemudian, ibunya Colin akhirnya meninggal dunia. Colin terpukul atas kematian sang ibu setelah mereka bertengkar mengenai Ray. Ditengah rasa sedihnya yang mendalam, Ray menemani Colin dan membelikannya makanan. Malam harinya, Ray mengizinkan Colin untuk tidur satu ranjang bersamanya. Keesokan harinya, Colin ingin mengulangi tidur bersama dengan Ray lagi. Selain itu, Colin juga menyarankan untuk mengadakan libur satu hari dalam satu pekan dari hubungan BDSM dan menjalin hubungan normal seperti pasangan Gay pada umumnya. Namun sayang, Ray mau menjalankan keinginan Colin. Ia tetap memerintahka Colin tidur di karpet kamarnya. Colin pun akhirnya melampiaskan amarahnya lalu pergi dari rumah dengan motor kesayangannya Ray.
Keesokan harinya, Colin pulang ke rumah Ray sambil mengembalikan motor. Tak disangka, Ray pun menyetujui untuk libur satu hari dan menjalani hubungan Gay secara normal. Mereka berdua kemudian menghabiskan waktu bersama jalan-jalan ke kota, menonton film di bioskop dan menikmati kuliner di restoran. Setelah itu, Colin dan Ray berlari menuju taman dan untuk pertama kalinya mereka berciuman di sana. Di hari normal tersebut, Colin merasakan kebahagiaan luar biasa yang akhirnya ia dapatkan dari Ray.
#Review:
Setelah berkompetisi di Cannes 2025 dan berhasil memenangkan penghargaan Un Certain Regard for Best Screenplay, film PILLION (2026) yang merupakan karya debut sutradara Harry Lighton, akhirnya segera tayang di bioskop Amerika Serikat mulai awal Februari mendatang.
Film PILLION (2026) merupakan adaptasi dari novel berjudul Box Hill karya penulis Adam Mars-Jones yang pertama kali dirilis pada tahun 2020 lalu. Premisnya pun terbilang tabu karena mengangkat hubungan Gay yang melakukan praktek BDSM. Untuk segi cerita, paruh awal film ini menyajikan formula standar hubungan LGBT tentang pria introvert biasa-biasa saja yang jatuh cinta pada pria tampan berbadan atletis dan seorang pembalap motor juga. Yang menjadi pembeda kali ini, konflik yang dihadirkan bukan lagi soal proses pencarian jati diri dan perjuangan mendapat penerimaan dari orangtua, melainkan dinamika dan kompleksitas dari hubungan Gay yang menjalani praktek BDSM di dalamnya. Orangtua dari karakter Colin justru sudah sangat terbuka. Bahkan mereka mencarikan jodoh untuk sang anak dan ikut senang saat mengetahui anaknya sedang dekat dengan pria yang disukainya. Memasuki babak pertengahan film, Lighton yang turut menulis cerita menyajikan perjalanan hubungan antara Colin dan Ray dengan menerapkan BDSM dengan tidak menekankan pada hubungan seksual semata seperti yang dilakukan Mr. Grey di Trilogy FIFTY SHADES (2015). Karakter Ray hadir dengan sifat sangat dominan dan otoriter terhadap Colin. Sebaliknya, karakter Colin berperan sebagai submisif dalam hubungan tersebut yang harus tunduk, patuh dan mengikuti semua keinginan Ray. Selama di rumah, Colin hanya menjalankan rutinitas seperti asisten rumah tangga saja bagi Ray yang diharuskan untuk belanja, memasak dan bersih-bersih. Mungkin saat bagian Colin yang harus tidur di karpet kamar, mengenakan kalung rantai bergembok dan sesekali harus bertekuk lutut layaknya seekor anjing bisa membuat sebagian penonton merasa tidak nyaman dengan adegan-adegan tersebut, karena ya itu tadi kompleksitas praktek BDSM memang seliar itu hahaha. Ditambah lagi, Lighton secara gamblang menampilkan pesta seks atau orgy BDSM dengan kostum lateks secara outdoor di tengah hutan. Sungguhlah, visualisasi yang terlalu realistis sekaligus memicu trauma bagiku saat melihatnya huft! Konflik yang dihadirkan saat menuju akhir film juga eksekusinya bagus dan sesuai dengan realita karena tidak semua orang dapat mentoleransi perilaku BDSM. Ending cerita dari perjalanan hubungan Colin dengan Ray pun ditutup secara bittersweet. Keduanya menyelesaikan peran dominan dan submisif dengan cara yang relatable dalam journey hubungan LGBT pada umumnya.
Untuk jajaran pemain, duet maut Harry Melling dan Alexander Skarsgård tampil bersinar di film PILLION (2026). Henry berhasil menghidupkan karakter Colin si submisif yang diam-diam menikmati dinamika hubungan BDSM nya dengan Ray namun di satu sisi, ia juga mengharapkan bisa menjalin hubungan yang normal juga. Range emosionalnya di babak akhir film sukses membuatku terpukau. Sementara itu, Alexander Skarsgard pun berhasil menampilkan sisi enigmatik dari karakter Ray si dominan. Sikap dingin, otoriternya saat melakukan BDSM terasa banget intimidatifnya. Namun di sisi lain, ia juga menampilkan sisi lainnya yang berusaha menjadi normal, meskipun pada akhirnya hasrat dominan dan BDSM nya memang tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Overall, film PILLION (2026) berhasil menyajikan dinamika hubungan BDSM secara raw, grounded dan realistis tanpa menonjolkan seksualitas yang lebay seperti film-film bertema BDSM kebanyakan.
[8.5/10Bintang]
Bagikan ke Teman & Pengikut:
- Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
- Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Klik untuk berbagi pada Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Klik untuk berbagi pada Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr
- Klik untuk berbagi pada Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Klik untuk berbagi via Pocket(Membuka di jendela yang baru) Pocket
- Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Klik untuk berbagi di Utas(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Klik untuk membagikannya ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Klik untuk berbagi di Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Klik untuk berbagi di Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
SaveSavedRemoved 0
![[Review] Pillion: Drama Percintaan Antara Pasangan Dominan Dan Submisif!](https://terviral.id/wp-content/themes/rehub-theme/images/default/noimage_70_70.png)